keratan-keratan eksistensial (ii)
bila saya mati, badan akan berhenti berfungsi. pernafasan terhenti, jantung juga berhenti berdegup, sekaligus atau sedikit demi sedikit -- kematian klinikal. tidak lama selepas itu, mungkin lima minit kemudiannya, sel-sel otak saya mulai mati. tapi dalam masa yang sama, otak mungkin merembeskan timbunan DMT. ia sejenis dadah psikedelik yang dirembes sewaktu kita sedang bermimpi, jadi, saya pun ikut bermimpi.
mimpi saya lebih banyak dari mimpi-mimpi sebelum ini sebab itulah semua yang ia ada, sisa-sisa terakhir DMT yang dirembes sekaligus.
neuron-neuron pula meledak dan saya dapat lihat bayangan bunga api mengenai ingatan dan khayalan. saya jadi khayal. betul-betul berkhayal sebab fikiran saya menerawang masuk ke dalam memori-memori tersebut, memori masa lalu dan masa kini. mimpi dan memori bercampur bersama, dan itulah tanda penamatnya -- sebuah mimpi untuk mematikan mimpi-mimpi lainnya. satu saja lagi mimpi sambil fikiran saya mengosongkan simpanan-simpanan misil, dan selepas itu, saya berhenti. aktiviti sel otak merosot dan tiada lagi sisa-sisa diri saya.
tiada sakit. tiada memori, tiada bukti bahawa saya pernah hidup, bukan, yang saya pernah bunuh seseorang. semua jadi biasa sama macam sebelum saya pernah ada. eletrik berselerak keluar dari otak sampailah ianya jadi tisu mati cuma. daging. dilupakan. dan segala hal remeh-temeh yang pernah menghidupkan saya, mereka... mikrob, bakteria, dan jutaan hal remeh-temeh lainnya yang hidup di bulu mata saya, di rambut, mulut, kulit, perut dan di tempat-tempat lainnya. mereka ini, akan terus hidup. dan terus makan. saya pula cuma ada satu tujuan; saya menghidupkan mereka. jasad saya bakal hancur, dikitar semula menjadi kepingan kecil-kecilan di jutaan ruang lainnya. atom diri saya ada di tumbuhan, serangga dan haiwan. saya jadi semacam bintang-bintang di langit. begitulah, kemudian bertaburan di seluruh alam.
sekarang ini, cakaplah, apa jadi pula bila kau mati?
mimpi saya lebih banyak dari mimpi-mimpi sebelum ini sebab itulah semua yang ia ada, sisa-sisa terakhir DMT yang dirembes sekaligus.
neuron-neuron pula meledak dan saya dapat lihat bayangan bunga api mengenai ingatan dan khayalan. saya jadi khayal. betul-betul berkhayal sebab fikiran saya menerawang masuk ke dalam memori-memori tersebut, memori masa lalu dan masa kini. mimpi dan memori bercampur bersama, dan itulah tanda penamatnya -- sebuah mimpi untuk mematikan mimpi-mimpi lainnya. satu saja lagi mimpi sambil fikiran saya mengosongkan simpanan-simpanan misil, dan selepas itu, saya berhenti. aktiviti sel otak merosot dan tiada lagi sisa-sisa diri saya.
tiada sakit. tiada memori, tiada bukti bahawa saya pernah hidup, bukan, yang saya pernah bunuh seseorang. semua jadi biasa sama macam sebelum saya pernah ada. eletrik berselerak keluar dari otak sampailah ianya jadi tisu mati cuma. daging. dilupakan. dan segala hal remeh-temeh yang pernah menghidupkan saya, mereka... mikrob, bakteria, dan jutaan hal remeh-temeh lainnya yang hidup di bulu mata saya, di rambut, mulut, kulit, perut dan di tempat-tempat lainnya. mereka ini, akan terus hidup. dan terus makan. saya pula cuma ada satu tujuan; saya menghidupkan mereka. jasad saya bakal hancur, dikitar semula menjadi kepingan kecil-kecilan di jutaan ruang lainnya. atom diri saya ada di tumbuhan, serangga dan haiwan. saya jadi semacam bintang-bintang di langit. begitulah, kemudian bertaburan di seluruh alam.
sekarang ini, cakaplah, apa jadi pula bila kau mati?
riley flynn, ep.4, midnight mass (2021).
pendapat saya sendiri? ya, pendapat kau sendiri. sendiri. diri saya. itulah masalahnya. itulah masalahnya dengan semua hal ini. perkataan 'diri' itu. itu bukan perkataannya. ia tak betul, ia bukan... bukan. macam mana saya terlupa hakikat ini? bila saya terlupa?
tubuh akan hentikan sel satu persatu tapi otak tetap menembak neuron. kilat petir kecil-kecilan, macam ada bunga api di dalamnya, dan saya fikir mungkin saya jadi putus asa atau rasa takut, tapi saya tak rasa pun semua itu. langsung tiada. sebab saya sangat sibuk, terlalu sibuk sekarang -- sibuk mengingati. mestilah saya ingat betapa setiap atom di badan saya ini telah pun ditempa di bintang dulu.
jirim ini, jasad ini sebenarnya cumalah ruang kosong. dan jirim pepejal pula? ia tenaga yang bergetar begitu perlahan. dan saya tak pernah wujud pun. tak pernah wujud. elektron di badan saya bergaul dan menari bersama elektron di tanah yang saya baring ini, dan juga udara yang tak lagi saya nafaskan. saya ingat, tiada satu pun dari hal itu pernah tamat atau saya bermula. saya teringat, saya cumalah tenaga. bukan ingatan. bukan diri. nama, perwatakan dan pilihan saya, semuanya mengikut jejak saya. saya pernah mendahului mereka dan saya akan mendahului mereka, sedangkan semua hal-hal lainnya sekadar gambar-gambar yang dikutip bersama di sepanjang perjalanan. mimpi-mimpi sementara itu pula tercetak di tisu otak saya yang sedang mati, dan sayalah kilat yang melompat-lompat di antara mereka. sayalah tenaga yang menembak neuron, dan saya pulang. hanya dengan mengingati saja, saya pulang ke rumah. ia ibarat setitis air jatuh ke laut, yang selalu menjadi sebahagian dari itu. semua hal, satu bahagian. kita semua, satu bahagian. kau, saya dan si kecil saya, juga mak dan ayah saya, dan sesiapa pun -- setiap tumbuhan, haiwan, atom, bintang dan galaksi -- semuanya. ada banyak lagi galaksi di alam semesta ini melebihi butiran-butiran pasir di pantai, dan itulah apa yang kita maksudkan bila kita bercakap tentang 'Tuhan.' Yang Esa. alam semesta dan mimpi-mimpinya yang tak berkesudahan. kitalah alam semesta yang bermimpikan diri sendiri. ia sebuah mimpi sederhana tentang kehidupan. tapi saya akan lupakan semua ini. saya selalu begitu, saya selalu lupakan mimpi-mimpi saya. cuma sekarang, di saat ini, pada saat saya ingat, sejurus saya ingat, saya memahami semuanya dalam satu masa saja.
mana ada masa. mana ada kematian. hidup ini kan cumalah mimpi, sebuah hajat yang dibuat lagi, lagi dan lagi sampailah ke penghujung abadinya. dan sayalah semua apa yang ia ada. sayalah semua itu. sayalah segalanya yang ada. saya adalah saya.
tubuh akan hentikan sel satu persatu tapi otak tetap menembak neuron. kilat petir kecil-kecilan, macam ada bunga api di dalamnya, dan saya fikir mungkin saya jadi putus asa atau rasa takut, tapi saya tak rasa pun semua itu. langsung tiada. sebab saya sangat sibuk, terlalu sibuk sekarang -- sibuk mengingati. mestilah saya ingat betapa setiap atom di badan saya ini telah pun ditempa di bintang dulu.
jirim ini, jasad ini sebenarnya cumalah ruang kosong. dan jirim pepejal pula? ia tenaga yang bergetar begitu perlahan. dan saya tak pernah wujud pun. tak pernah wujud. elektron di badan saya bergaul dan menari bersama elektron di tanah yang saya baring ini, dan juga udara yang tak lagi saya nafaskan. saya ingat, tiada satu pun dari hal itu pernah tamat atau saya bermula. saya teringat, saya cumalah tenaga. bukan ingatan. bukan diri. nama, perwatakan dan pilihan saya, semuanya mengikut jejak saya. saya pernah mendahului mereka dan saya akan mendahului mereka, sedangkan semua hal-hal lainnya sekadar gambar-gambar yang dikutip bersama di sepanjang perjalanan. mimpi-mimpi sementara itu pula tercetak di tisu otak saya yang sedang mati, dan sayalah kilat yang melompat-lompat di antara mereka. sayalah tenaga yang menembak neuron, dan saya pulang. hanya dengan mengingati saja, saya pulang ke rumah. ia ibarat setitis air jatuh ke laut, yang selalu menjadi sebahagian dari itu. semua hal, satu bahagian. kita semua, satu bahagian. kau, saya dan si kecil saya, juga mak dan ayah saya, dan sesiapa pun -- setiap tumbuhan, haiwan, atom, bintang dan galaksi -- semuanya. ada banyak lagi galaksi di alam semesta ini melebihi butiran-butiran pasir di pantai, dan itulah apa yang kita maksudkan bila kita bercakap tentang 'Tuhan.' Yang Esa. alam semesta dan mimpi-mimpinya yang tak berkesudahan. kitalah alam semesta yang bermimpikan diri sendiri. ia sebuah mimpi sederhana tentang kehidupan. tapi saya akan lupakan semua ini. saya selalu begitu, saya selalu lupakan mimpi-mimpi saya. cuma sekarang, di saat ini, pada saat saya ingat, sejurus saya ingat, saya memahami semuanya dalam satu masa saja.
mana ada masa. mana ada kematian. hidup ini kan cumalah mimpi, sebuah hajat yang dibuat lagi, lagi dan lagi sampailah ke penghujung abadinya. dan sayalah semua apa yang ia ada. sayalah semua itu. sayalah segalanya yang ada. saya adalah saya.
erin greene, ep.7, midnight mass (2021).