dengar dan telan obat


i sesudah earphone rosak, saya tidak lagi berkhalwat dengan lagu kesukaan. malam kian menjenguk ke rumah, saya pula cuma mampu hidangkan kopi bersama tawa-nangis si kecil, takpun membilang curhat kekasih hati. telinga ini saya tadah untuk menakung kisah patah hati orang di sekeliling, yang tidak lagi saya gadai untuk mendengar apa yang saya mau saja. saya mulai belajar untuk menoleh ke arah mana pun -- suara kecewa atau bahagia -- dan peluk apa atau sesiapa yang sudi menempel. 

ii saya mau campak kenangan ke tasik sekolah. airnya hitam, pondoknya rapuh dan rumputnya mati. biarlah lemas ditelan masa -- mengikut berat dosanya yang lampau -- sebagaimana saya sudah lelah menyingsing ego di kocek cardigan kepunyaan mama. cat jingga di lengan kirinya memudar. saya pun mengizin tuhan mengintai sedepa kecuali namanya. tangan yang menumpang di balik kocek akhirnya mengucap syukur usai digenggam orang lain. dia tidak kisah mencintai kesat-lembapnya tangan ini, malah dia pimpin erat tangan ini menunggang hari celaka. 

iii suaranya candu pengganti duka lalu membentuk sebuku lagu. saya jahit nasihatnya di lengan kanan cardigan ini sebagai tanda berterima kasih. halus ucapannya, berbekas sayang. benangnya saya ambil dari sebuah kejujuran yang dipintal doa -- sayang, akan selamatkah kita?