with eyes to hear and ears to see

(gif)

saat-saat yang kita ada sekarang ini kita isi dengan apa? mungkin antara kita kadangkala cuma mampu duduk termenung dan berfikir mengenai hari esok. kita bertanya pula kepada Tuhan saat sejadah itu dihampar lesu: sisa-sisa nikmat apakah lagi yang tinggal untuk diri yang hina ini?

have you ever asked for that, even when you feel like God’s not listening to you?

mata dipejam terlebih erat malam itu berharap Tuhan dengarlah apa yang kita hajati. esok hari kita bangun sambil tersenyum menatap telefon. pandang ke bawah, ada tilam yang empuk cukup-cukup untuk dua orang bersesak tidur. di tepi pula ada jendela yang terbuka luas sengaja memualkan kita pada pandangan di luar: barisan kereta yang tidak berhenti-henti berlaga tayar di atas jalan.

sedari itu barulah kita merasa bersalah pada diri - kalau betullah kita ini pada tahap yang waras untuk memamhami - what is it that we give for our soul to keep it alive? sedekah yang bagaimanakah kita beri pada diri ini setiap hari? perhaps, we’re the ones who aren’t even listening closer to things we ask from God.

and maybe we aren’t paying attention to things which didn’t happen the way we wanted it to be. bodoh, kesal kita dalam hati. mana ada sesuatu itu kita raih tanpa perlu kita berusaha dulu. ya, cara kita berusaha itu pula bukanlah dengan berputus asa dari berharap dan berdoa hendaknya.

dongaklah ke langit, di sana bukan cuma ada bumbung untuk kita berteduh, tapi rahmat dan kasih sayang Tuhan yang sentiasa memayungi alam. it's like pulling out one of the cards from the packet, tossing it away and hoping we'll be lucky enough to be a winner. one moment later, we start to give up, thinking that somehow, the packet will be out of cards.

terlupa. hidup ini sebenarnya tidaklah begitu mudah dipertaruhkan sebagaimana kita berbicara sambil lewa dengan Tuhan yang Maha Mendengar.